Twitter di Indonesia menujukkan gejala-gejala tren yang aneh di mata saya. Ketika Indonesia dan Jakarta menjadi trending topic pada saat terjadi ledakan bom di JW Marriot dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan Jakarta, saya masih mahfum. Demikian pula ketika #IndonesiaUnite yang merespon bom tersebut memuncaki trending topics Twitter, masih masuk akal. Bahkan tatkala mbah Surip meninggal dan masuk 10 besar trending topics, saya merasa biasa saja. Namun manakala kata-kata yang aneh-aneh bermunculan menjadi trending topics, saya mulai bertanya-tanya: apa yang sesungguhnya memicu sebuah tren di Twitter?
Sebagai contoh, hari ini #alesanputus hanya dalam beberapa jam masuk ke 10 besar trending topics. Padahal kata itu hanya mengacu pada apa alasan kita putus dengan sang pacar. Sebelumnya, #jamanSD, juga #filmbikinmewek tiba-tiba menjadi tren di Twitter. Entah energi apa yang mendorong kata-kata “kurang jelas” itu menjadi gerakan masal di Twitter.
Salah satu penjelasan terjadinya sebuah trend dikupas secara menarik, penuh dengan ujicoba, dengan analisa cerdas, oleh Malcolm Gladwell. Dalam buku larisnya yang berjudul The Tipping Point, Gladwell menjelaskan bahwa trend akan terjadi jika dipicu oleh sedikit orang yang amat berpengaruh. Hush Puppies, yang mestinya sekarat pada 1994, tiba-tiba berubah haluan karena ada segelintir orang amat berpengaruh memakai sepatu Hush Puppies. Hanya dalam tempo dua tahun, penjualannya naik 5 ribu persen tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya iklan. Semua itu, menurut Gladwell, karena ada “segelintir superinfluential types” yang mempengaruhi orang lain untuk meniru mereka.
Di dunia marketing, fenomena itu disebut sebagai viral marketing atau word of mouth marketing. Konsepnya: dekati segelintir orang-orang yang amat berpengaruh untuk memakai produk kita, maka orang-orang yang mengagumi mereka akan tertarik untuk membeli produk yang sama, tanpa harus melihat iklan. Paham ini dianut oleh Ed Keller dan Jon Berry yang menulis buku The Infuentials. “E-fluentials bisa membuat atau bahkan merusak sebuah brand,” kata mereka. Tidak heran jika MarketingVOX melaporkan, setiap tahunnya lebih dari US$ 1 miliar dibelanjakan untuk kampanye WOM yang menyasar para Influentials ini, dengan pertumbuhan 36% per tahun, jauh di atas taktik marketing dan advertising lain.
Gladwell maupun Ed Keller dan Jon Berry punya pendapat yang sama: tren akan terjadi jika dipicu oleh (segelintir) orang berpengaruh. Tanpa itu, tidak akan terjadi tren.
Namun, dalam pengamatan saya, tren di Twitter terjadi begitu saja tanpa dipicu oleh orang berpengaruh. Gerakan #IndonesiaUnite tidak dipicu oleh seleb atau orang hebat. Demikian pula #alesanputus, #filmbikinmewek, dan #jamanSD bergerak cepat, menviral hanya dalam hitungan jam, menjadi tren di Twitter, tanpa picuan dari orang top, seleb, atau orang berpengaruh.
Lalu kenapa bisa terjadi? Jika mengandalkan paham Gladwell maupun Ed Keller dan Jon Berry, maka pertanyaan itu tidak akan terjawab. Untunglah, sebuah penelitian bisa membantah paham “Orang Berpengaruh” tersebut. Duncan Watts, saintis teori jejaring lulusan Columbia University yang kini bekerja di Yahoo! membuat model komputer bagaimana sebuah rumor bisa menyebar luas dalam tempo singkat.
Hasilnya? Mengejutkan! Sebuah tren bisa terjadi tanpa harus dipicu oleh segelintir orang amat berpengaruh. Tren bisa meledak, tidak tergantung pada siapa yang memulai, tetapi tergantung pada kesiapan seluruh masyarakat untuk menyambutnya. Tren tidak tergantung pada seberapa berpengaruhnya kelompok early adopter, tetapi justru pada seberapa mudah pihak lain, yang mayoritas itu, terbujuk. “Jika masyarakat sudah siap untuk sebuah tren, siapapun bisa memicunya. Itu artinya semua orang bisa memicu tren, tidak harus orang berpengaruh,” katanya.
Bagi Watts, pengibaratan viral dengan penyebaran virus adalah salah kaprah. Viral lebih cocok diibaratkan sebagai kebakaran hutan. Selama jutaan tahun berkali-kali terjadi kebakaran hutan di seluruh penjuru dunia. Namun hanya beberapa yang menjadi kebakaran hebat. Ini bisa terjadi karena situasi yang amat jarang ditemui: kekurangan hujan, pepohonan yang mengering dan ketidaksiapan pemadam kebakaran. Jika tiga hal tersebut berkombinasi, tidak perlu orang berpengaruh untuk memicu kebakaran. Orang gila yang sembarang membuang puntung rokok pun bisa memicu kebakaran hebat.
Teori Watts ini cocok untuk menjelaskan trending topics di Twitter untuk hal-hal yang kelihatannya remeh-temeh seperti #alesanputus, #filmbikinmewek, dan #jamanSD. Sangat mungkin dalam diri banyak pengguna Twitter di Indonesia memang ingin cerita dan berbagi soal alasan putus mereka dengan pacar, film apa saja yang membuat mereka berurai air mata, serta kenangan manis di saat masih di Sekolah Dasar. Twitter, dengan kapasitas 140 karakternya dan sifat penyebarannya, menjadi medium yang tepat. Jadi, siapapun yang memulai tren itu tidak relevan. Bisa siapa saja. Tidak perlu beberapa seleb yang ceriwis di Twitter untuk memicu tren. Anda pun bisa memicu tren di Twitter, JIKA masyarakat Twitter siap menerima tren itu.
Ada pendapat lain?
Source: http://www.virtual.co.id
No comments:
Post a Comment